Senin, 12/07/2009 <04.30 WITA>
Pagi tadi udara sangat dingin, menyengat kulit, kubenahi selimutku untuk mengusir rasa dingin itu.
Kucoba tuk pejamkan mata lagi, namun tidak bisa. Nun jauh di sana sayup-sayup terdengar suara azan sangat lirih.
Suara azan disini memang jarang terdengar, bahkan bisa dikatakan sangat langka. air wudhu terasa lebih dingin
dari pada udara pagi. aku ingin mendekat kembali kepada sang “Causa Prima” yang beberapa waktu lalu telah aku tinggalkan.
Dalam sujudku kupanjatkan doa agar sang Khalik selalu menyertai dan menaungiku dalam perjalanan hidupku. Aku sadar bahwa
selama ini aku egois, hanya meminta jika aku butuh, dalam segala hal. Tak pernah terbayangkan jika sang Khalik tidak Maha
Pemurah.
Seminggu lebih aku melupakan hiruk-pikuk aktivitas dan rutinitas pekerjaan yang tiada akhir. seminggu ini
aku benar-benar menikmati ketenangan di kampung halamanku, di belahan lain waktu nun jauh di sana. Masih terasa kesejukan
udara kampungku, masih terngiang sapaan lembut orang-orang desa kecilku, masih tercium asap mengepul dari bakul nasi yang
digendong untuk suami tercinta di sawah. Masih terlihat semburat pesona cerah wajah petani takkala melihat padinya menguning
siap panen. Aku sungguh menciatai semua itu, alam, hembusan anginnya, gemercik airnya, kicauan burungnya, derit dahan pohonnya
segalanya. Namun, sekarang ironis, meskipun sekarang bidang kerjaku di “sektor itu” aku tak merasakannya. Tapi aku tetap
bersyukur dan menikmati semua ini.
Jam masih menujukkan pukul 05.00 WITA. Sang Mentari belum mendongakkan wajahnya dengan congkak memanasi Bali. Orang-orang
di belahan bumi barat pasti masih terlelap, bercanda dengan mimpi-mimpinya.Kubuka laptopku, yang selama seminggu ini
aku tinggalkan. Masih ada waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda. Tulisan “DEAD LINE” masih terpampang jelas
di storeoform di depanku. Ada data-data yang harus aku rekap dan Up Load. Mulai ke sentuh tuts-tuts keboard laptopku dengan
lembut, seakan tanganku bekerja tanpa memperdulikan otakku. Kurasakan sisi positif aku “menghilang” selama seminggu. FRESH!!
Selesai sudah apa yang harus aku kerjakan, tinggal upload.
06.45 WITA
Kubenahi kamarku dan siap berangkat. Udara dingin menusuk tulangku, pagi yang dingin, mendung. Mess masih sepi orang-orang
belum bangun. Jalanan Denpasar masih lengang, hanya beberapa ibu2 yang tampak tergesa-gesa dan mengomeli anaknya yang pemalas.
Kantor masih terasa sepi, mungkin orang – orang berpaham “I Hate Monday”. Segera kuhabiskan sarapanku, dan segera naik ke atas.
ruangan kantorku berada di lantai dua, ini satu hal yang kubenci, harus naik turun tangga meskipun bisa untuk sekalian berolahraga.
Secangkir kopi dan sebatang rokok memicu semangatku. Segera kubuka laptopku, pekerjaan sudah harus cepat diselesaikan, pikirku.
Oh.. ternyata jaringan sedang error. Sial! apa yang salah, minggu kemarin sebelum kutinggal fine-fine aja.
Dibawah masih sepi, ternyata teman-teman yang lain dapat dinas luar. Dikantor hanya tinggal beberapa orang saja. Aku masuk ke ruang
server, ternyata sudah ada pesan “mas, kata pihak telkom jaringan sedang di perbaiki, tolong nanti di confirm”. Yah… apa boleh buat,
ternyata semua tidak berjalan seperti apa yang kuharapkan.
Hari semakin sore, langit mendung kelabu. Membuat si Congkak tak berani menampakkan mukanya. Gerimis turun dengan lembut, membasahi
kaca jendela ruanganku. Aku berdiri, menatap keluar jendela. Orang-orang berlarian menghindari sejuknya gerimis. Hembusan angin
menambah suasana muram hari itu. Tampaknya langit tak bersedia memberi ruang kapada sang mentari, untuk menyemangati hari ini dengan
sinarnya. Tiba-tiba telpon berdering, ” Halo… Mas saya pulang duluan, di bawah sudah tidak ada orang, nanti jangan lupa dikunci
dan bawa aja kuncinya ya…” “Ya!” jawabku singkat.
Aku kembali duduk, menggeliat, uh…lumayan, rasa penat agak menghilang. Jam masih menunjukkan pukul 15.15 WITA, tapi orang-orang
sudah pulang. Aku berpikir sejenak, aku ambil kameraku, aku cek, ternyata foto-foto kemarin belum kutransfer. Sudah lama aku tidak
“hunting” mencari bayangan imajiner yang “mungkin” hanya dapat aku nikmati sendiri. Photography adalah obat penyembuh kejenuhanku
disini.Aku sangat menikmati hal satu ini. Aku ingin merekam semua moment yang ada ke dalam sebuah foto yang semua orang dapat mengimajinasikannya.
Kususuri jalan Kota Denpasar yang mulai padat. Kuta, itulah tujuanku. Sudah lama aku tidak meyambangi tempat ini. Meskipun menjadi
salah satu tujuan wisata, namun aku tidak terlalu tertarik Tempat ini sudah layaknya pasar dengan hiruk-pikuknya. Tapi saat ini kuta
berbeda, lengang. Mungkin musim liburan sudah usai dan hari senin. Hanya beberapa orang dan turis asing yang tampak di situ, termasuk aku.
Aku berjalan menyusuri pantai kuta. Setelah beberapa saat berjalan, aku berhenti. Cocok! pikirku. Tempat ini point yang pas buat nyari obyek.
Langit masih di warnai dengan mendung-mendung sisa gerimis tadi siang, sang matahari mulai lelah memberikan energinya. Sinarnya bagaikan
kuas dan tinta yang memberikan warna-warni pada awan-awan yang berarak memburu sang congkak. Dari ufuk barat terlihat kuning merah menyala,
semakin ke timur warnanya berubah menjadi lebih redup, merah tua, jingga dan akhirnya kelabu.
To Be Continued…………..